"Saya boleh bunuh semua Yahudi ketika saya berkuasa. Tetapi saya tinggalkan sedikit kepada kamu. Kenapa? supaya kamu kenal siapa yahudi,dan mencari jawapan kenapa saya bunuh yahudi."
memang yahudi laknatullah ni patut di bunuh. dah la penakut. baru siram air je dah tembak org. penakut betul yahudi. aku rasa kalau kita hantar tentera kat sana confirm diorang kalah teruk. mari kumpulkan semua pejuang. tawan kembali palestin.
Nabi saw bersabda dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim dan al-Tirmidhi bermaksud: "Tidak akan berlaku kiamat sehinggalah akan berlaku peperangan di antara orang Islam dan Yahudi, maka pada waktu itu (tentera) Yahudi akan dibunuh oleh (tentera) Islam, sehingga apabila orang Yahudi berselindung di sebalik batu dan pokok, lalu batu dan pokok itu akan bersuara dengan katanya: 'wahai muslim, wahai hamba Allah, di belakangku ini ada Yahudi, marilah bunuhnya', kecuali POKOK GHARQAD (yang tidak bersuara), kerana sesungguhnya ia merupakan pokok Yahudi".
About Me
- aizat nasri
- 1. sekolah kebangsaan batu gajah melaka (1996-2001) 2. sekolah menengah kebangsaan bandar baru salak tinggi (2002-2004) 3. sekolah menengah sains selangor (2005-2006) 4. centre for foundation studies iium petaling jaya (2007-2009) 4. iium kuantan campus (2009-2014 insyaAllah)
Tuesday, June 8, 2010
Monday, June 7, 2010
Sample and population
Statistic estimates the population.
- How representative the sample to the population.
- A sample statistic may not be able to get exact value as the population (sampling
error occur)
- different sample of statistic from same population may yield different estimate.
- If sampling is repeated many time, the statistic may approach the true value of population
Standard error is how good a sample mean is representing, larger the SE more crude the data. large sample size reduced SE
- How representative the sample to the population.
- A sample statistic may not be able to get exact value as the population (sampling
error occur)
- different sample of statistic from same population may yield different estimate.
- If sampling is repeated many time, the statistic may approach the true value of population
Standard error is how good a sample mean is representing, larger the SE more crude the data. large sample size reduced SE
Introduction to Biostatistic.
statistic = collecting, interpreting, processing, presenting of numerical data.
biostatistic = application of statistic in biological sciences - medicine, pharmacy.
parameter = characteristic of whole population (uncountable)
statistic = characteristic of a sample, presumably measurable
2 types of data, categorical and numerical. categorical - count, proportion, rate, ratio - divided into 2 which are nominal (gender,color) and ordinal (cancer stages,income). numerical - central of measurement and dispersion - also divided into 2 which are discrete (finite and possible value) and continuous (infinite and no possible values) data.
interval = no real value of zero (temperature)
ration = has real value of zero (weight and length)
biostatistic = application of statistic in biological sciences - medicine, pharmacy.
parameter = characteristic of whole population (uncountable)
statistic = characteristic of a sample, presumably measurable
2 types of data, categorical and numerical. categorical - count, proportion, rate, ratio - divided into 2 which are nominal (gender,color) and ordinal (cancer stages,income). numerical - central of measurement and dispersion - also divided into 2 which are discrete (finite and possible value) and continuous (infinite and no possible values) data.
interval = no real value of zero (temperature)
ration = has real value of zero (weight and length)
Luahan Rindu...
Terkenang masa dahulu
Memori silam ku
Kisah persahabatan
Dengarkanlah lagu ini
Kuciptakan untukmu
Moga dirimu terhibur
Kenangan dahulu mendewasakanku
Mengajar erti kehidupan
Segala pahit manis tempuhi bersama
Demi mengejar satu cita
Kenanganku..
Dengarkan luahan hatiku
Merindu keriangan dahulu
Indahnya..
Saat penuh tawa ceria
Terhapuslah segala duka
Teringat daku kembali
Saat kasih bersemi
Kita mengukir janji
Di waktu persekolahan
Yang penuh impian
Kita memburu harapan
Kenangan dahulu mendewasakanku
Mengajar erti kehidupan
Segala pahit manis tempuhi bersama
Demi mengejar satu cita
Kenanganku..
Hadirlah dikau menerangi
Oh ruangan hatiku
Semoga tersirat hikmah melanda
Bersama kita selamanya
Segala keindahan jadi kenangan
Yang buruk jadikan sempadan
Biar diduga derita
Tabahkanlah sentiasa
Semoga mendapat rahmatNya
Kenanganku..
Hadirlah dikau menerangi
Oh ruangan hatiku
Semoga tersirat hikmah melanda
Bersama kita selamanya
Memori silam ku
Kisah persahabatan
Dengarkanlah lagu ini
Kuciptakan untukmu
Moga dirimu terhibur
Kenangan dahulu mendewasakanku
Mengajar erti kehidupan
Segala pahit manis tempuhi bersama
Demi mengejar satu cita
Kenanganku..
Dengarkan luahan hatiku
Merindu keriangan dahulu
Indahnya..
Saat penuh tawa ceria
Terhapuslah segala duka
Teringat daku kembali
Saat kasih bersemi
Kita mengukir janji
Di waktu persekolahan
Yang penuh impian
Kita memburu harapan
Kenangan dahulu mendewasakanku
Mengajar erti kehidupan
Segala pahit manis tempuhi bersama
Demi mengejar satu cita
Kenanganku..
Hadirlah dikau menerangi
Oh ruangan hatiku
Semoga tersirat hikmah melanda
Bersama kita selamanya
Segala keindahan jadi kenangan
Yang buruk jadikan sempadan
Biar diduga derita
Tabahkanlah sentiasa
Semoga mendapat rahmatNya
Kenanganku..
Hadirlah dikau menerangi
Oh ruangan hatiku
Semoga tersirat hikmah melanda
Bersama kita selamanya
Saturday, June 5, 2010
Renungan....
Salam, renungi sejenak. dari wall sahabat saya.
Seorang guru wanita sedang bersemangat mengajarkan sesuatu kepada anak muridnya. Ia duduk menghadap anak muridnya. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada kayu pemadam.
Guru itu berkata, "Saya ada satu permainan...Caranya begini, ditangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada kayu pemadam. Jika saya angkat kapur ini, maka sebutlah "Kapur!", jika saya angkat kayu pemadam ini, maka katalah "Pemadam!"
Anak muridnya faham dan seterusnya menyebut dengan betul. Guru bersilih-ganti mengangkat tangan kanan dan kirinya, semakin lama semakin cepat.
Beberapa saat kemudian guru kembali berkata, "Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka sebutlah "Pemadam!", jika saya angkat kayu pemadam, maka katakanlah "Kapur!".
Dan diulangkan seperti tadi, tentu saja murid-murid tadi keliru dan kekok, dan sangat sukar untuk mengubahnya.
Namun lambat laun, mereka kembali biasa dan tidak kekok lagi. Selang beberapa saat, permainan berhenti.
Guru tersenyum kepada anak muridnya. "Murid-murid, begitulah kita umat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Kita begitu jelas membezakannya. Namun kemudian, satelah musuh kita memaksakan kepada kita dengan perbagai cara untuk menukarkan sesuatu, perkara yang haq telah me njadi bathil, dan sebaliknya. Pada mulanya agak sukar bagi kita menerima hal tersebut, tapi kerana terus disosialisasikan dengan pelbagai cara menarik oleh mereka, lambat laun kita akan terbiasa dengan hal itu, seterusnya kita mulai dapat mengikutinya.
Musuh-musuh kita tidak pernah berhenti membolak-balik dan menukar nilai murni akidah/hukum Islam dari masa ke semasa.
"Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, Zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, tanpa rasa malu, sex sebelum nikah menjadi suatu kebiasaan dan trend, hiburan yang asyik dan panjang sehingga melupakan yang wajib adalah biasa, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup dan lain lain."
"Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, anda sedikit demi sedikit
menerimanya tanpa rasa ia satu kesalahan dan kemaksiatan. Faham?" tanya Guru kepada anak muridnya.
"Baik untuk permainan kedua..." Gurunya meneruskannya......
"Cikgu ada Qur'an,cikgu akan letakkannya di tengah karpet. Sekarang anda berdiri diluar karpet. Permainannya adalah , bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada ditengah tanpa memijak karpet?"
Murid-muridnya berfikir .
Ada yang mencuba dengan tongkat, dan selainnya. Akhirnya Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur'an. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet ..
"Murid-murid, begitulah ummat Islam dengan musuhnya. .. Musuh Islam tidak akan memijak-mijak anda dengan terang-terangan. ..Kerana tentu anda akan menolaknya dengan mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tapi mereka akan monolak kita secara ansur-ansur, sehingga kita tidak sedar.
"Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina tapak yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau dimulai dgn tapaknya dulu, tentu saja dinding dan peralatan akan dikeluarkan dulu, kerusi dipindahkan dulu, Almari dibuang dulu satu persatu, baru rumah dihancurkan. ..."
"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan menghentam terang-terangan, tapi ia akan perlahan-lahan merusakan kita. Mulai dari perangai kita, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga
meskipun kita muslim, tapi kita telah meninggalkan ajaran Islam dan
mengikuti cara mereka... Dan itulah yang mereka inginkan." "Ini
semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh musuh kita... "
"Kenapa mereka tidak berani terang-terang memijak-mijak kita, cikgu?"tanya murid- murid.
"Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang Islam, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tapi sekarang tidak lagi."
"Begitulah Islam... Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan
sedar, akhirnya hancur. Tapi kalau diserang secara terang-terangan,
kita akan bangkit serentak, baru mereka gerun".
"Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdoa dahulu sebelum pulang..."
Seorang guru wanita sedang bersemangat mengajarkan sesuatu kepada anak muridnya. Ia duduk menghadap anak muridnya. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada kayu pemadam.
Guru itu berkata, "Saya ada satu permainan...Caranya begini, ditangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada kayu pemadam. Jika saya angkat kapur ini, maka sebutlah "Kapur!", jika saya angkat kayu pemadam ini, maka katalah "Pemadam!"
Anak muridnya faham dan seterusnya menyebut dengan betul. Guru bersilih-ganti mengangkat tangan kanan dan kirinya, semakin lama semakin cepat.
Beberapa saat kemudian guru kembali berkata, "Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka sebutlah "Pemadam!", jika saya angkat kayu pemadam, maka katakanlah "Kapur!".
Dan diulangkan seperti tadi, tentu saja murid-murid tadi keliru dan kekok, dan sangat sukar untuk mengubahnya.
Namun lambat laun, mereka kembali biasa dan tidak kekok lagi. Selang beberapa saat, permainan berhenti.
Guru tersenyum kepada anak muridnya. "Murid-murid, begitulah kita umat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Kita begitu jelas membezakannya. Namun kemudian, satelah musuh kita memaksakan kepada kita dengan perbagai cara untuk menukarkan sesuatu, perkara yang haq telah me njadi bathil, dan sebaliknya. Pada mulanya agak sukar bagi kita menerima hal tersebut, tapi kerana terus disosialisasikan dengan pelbagai cara menarik oleh mereka, lambat laun kita akan terbiasa dengan hal itu, seterusnya kita mulai dapat mengikutinya.
Musuh-musuh kita tidak pernah berhenti membolak-balik dan menukar nilai murni akidah/hukum Islam dari masa ke semasa.
"Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, Zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, tanpa rasa malu, sex sebelum nikah menjadi suatu kebiasaan dan trend, hiburan yang asyik dan panjang sehingga melupakan yang wajib adalah biasa, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup dan lain lain."
"Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, anda sedikit demi sedikit
menerimanya tanpa rasa ia satu kesalahan dan kemaksiatan. Faham?" tanya Guru kepada anak muridnya.
"Baik untuk permainan kedua..." Gurunya meneruskannya......
"Cikgu ada Qur'an,cikgu akan letakkannya di tengah karpet. Sekarang anda berdiri diluar karpet. Permainannya adalah , bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada ditengah tanpa memijak karpet?"
Murid-muridnya berfikir .
Ada yang mencuba dengan tongkat, dan selainnya. Akhirnya Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur'an. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet ..
"Murid-murid, begitulah ummat Islam dengan musuhnya. .. Musuh Islam tidak akan memijak-mijak anda dengan terang-terangan. ..Kerana tentu anda akan menolaknya dengan mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tapi mereka akan monolak kita secara ansur-ansur, sehingga kita tidak sedar.
"Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina tapak yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau dimulai dgn tapaknya dulu, tentu saja dinding dan peralatan akan dikeluarkan dulu, kerusi dipindahkan dulu, Almari dibuang dulu satu persatu, baru rumah dihancurkan. ..."
"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan menghentam terang-terangan, tapi ia akan perlahan-lahan merusakan kita. Mulai dari perangai kita, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga
meskipun kita muslim, tapi kita telah meninggalkan ajaran Islam dan
mengikuti cara mereka... Dan itulah yang mereka inginkan." "Ini
semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh musuh kita... "
"Kenapa mereka tidak berani terang-terang memijak-mijak kita, cikgu?"tanya murid- murid.
"Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang Islam, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tapi sekarang tidak lagi."
"Begitulah Islam... Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan
sedar, akhirnya hancur. Tapi kalau diserang secara terang-terangan,
kita akan bangkit serentak, baru mereka gerun".
"Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdoa dahulu sebelum pulang..."
Subscribe to:
Posts (Atom)